Play Paper Scissors For Development Fine Motorcy Of Children With Graphic Disabilities

Bermain Menggunting Kertas Untuk Perkembangan Motorik Halus Anak Tuna Grahita

Authors

  • Monika Sawitri Prihatini STIKES Pemkab Jombang
  • Ririn Probowati Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pemkab Jombang
  • Mamik Ratnawati Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pemkab Jombang

DOI:

https://doi.org/10.33023/jpm.v9i2.1772

Keywords:

terapi menggunting kertas, anak tuna grahita

Abstract

Pendahuluan Tuna Grahita atau Retardasi Mental ditandai dengan ketidakmampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional serta menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat. Perkembangan anak Tuna Grahita sangat terlambat dibandingkan anak normal terutama dalam perkembangan motorik, bahasa, sosial dan kognitif. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motorik halus dengan terapi bermain menggunting kertas. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk melatih motorik halus pada anak Tuna Grahita agar memiliki koordinasi tangan dan mata yang baik. Metodologi Metode pengabdian yang digunakan adalah dalam bentuk pengajaran dan demontrasi. Kegiatan dilaksanakan di salah satu SLB di Kabupaten Jombang yang dilaksanakan selama 4 hari. Usia peserta pengabdian antara 7-12 tahun.  Setiap hari anak bermain menggunting kertas dengan waktu sekitar 10-15 menit. Hari pertama menggunting gambar bangun ruang persegi lima, hari kedua menggunting gambar buah jeruk, hari ketiga menggunting gambar burung dan hari terakhir menggunting gambar mobil. Hasil hasil pengabdian ini bahwa motorik halus pada anak Tuna Grahita tidak banyak mengalami perubahan dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan. Mata dan tangan belum bisa berkoordinasi dengan baik sehingga pada saat mengguting masih mendapatkan bantuan dari tim anggota pengabdian masyarakat. Diskusi/Pembahasan Terapi menggunting dapat meningkatkan motorik halus pada anak dengan tuna grahita tetapi harus dilaksanakan dengan sering dan berkelanjutan serta membutuhkan bimbingan saat melakukan kegiatan ini. Manfaat lain dari terapi ini adalah dapat tercipta suasana belajar yang menyenangkan sehingga anak dapat ikut serta mengikuti kegiatan tanpa paksaan.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Pieter, H. Z., Janiwarti, B. &Saragih, M. 2011.Pengantar Psikopatologi Untuk

Keperawatan Edisi 1 Cetakan-I. Jakarta: Kencana.

Sunusi, H. C., Psikologi, F., Kristen, U., &Wacana, S. (2018). Picture Exchange Communication System ( PECS ) Dan Communication Apprehension ( CA ) Pada Remaja Tunagrahita Jenjang SD Di SLBN Salatiga. 45, 132–140.

Rokhman, A., Rohmah, F., Lamongan, U. M., &Lamongan, U. M. (2011). Mental Dengan Terapi Okupasi Di Sdlb Negeri Lamongan Improvement Of Self-Care Independence For Children With Mental Retardation Using Occupational Therapy In SDLB Negeri Lamongan. 92–98.

Rosmaharani, S., Noviana, I., &Susilowati, A. (2019). Optimalisasi Pengetahuan Keluarga Dalam Merawat Anak Retardasi Mental Melalui Psikoedukasi Keluarga Di Kabupaten Jombang. 7(2), 108–113.

Published

2023-09-28

How to Cite

Prihatini, M. S., Ririn Probowati, & Mamik Ratnawati. (2023). Play Paper Scissors For Development Fine Motorcy Of Children With Graphic Disabilities: Bermain Menggunting Kertas Untuk Perkembangan Motorik Halus Anak Tuna Grahita . Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan, 9(2), 110-113. https://doi.org/10.33023/jpm.v9i2.1772